Muhasabah Cinta

4:30 PM Posted In Edit This

Cinta memang selalu menarik untuk ditulis. Dalam perjalanan pulang dari kampus kemarin lusa, tak sengaja saya mendengar sebuah stasiun radio yang memutar nasyid berjudul Muhasabah Cinta. Walaupun tak mendengar semua liriknya, tapi nasyid ini memiliki tema yang menarik. Tak mudah menulis tentang cinta kecuali Anda akan menghabiskan banyak waktu dan energi.

Ada seorang bijak yang berkata: cinta itu ibarat labirin, jaringan lorong yang ruwet membingungkan, kalau tidak memiliki arah petunjuk Anda akan tersesat dan hanya berputar-putar kembali ke tempat yang sama. Kalau mau bukti, sila baca kisah Laila dan Majnun, Samson dan Delilah, Romeo dan Juliet atau tulisan-tulisan Kahlil Gibran. Semuanya menyesatkan, memabukkan dan berakhir menyedihkan.

Sering kita mendengar kata muhasabah. Banyak da’i menggunakan kata ini dalam tausyiahnya di acara pesantren kilat, milad atau pergantian tahun. Tapi apakah muhasabah itu sebenarnya? Muhasabah berasal dari kata ha-si-ba yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri atau mudahnya adalah mengevaluasi diri.

Dalam melakukan muhasabah cinta, seorang muslim menilai dirinya, apakah rasa cinta dalam diri membuatnya lebih banyak beribadah ataukah malah lebih banyak bermaksiat dalam kehidupan sehari-hari. Ia harus objektif melakukan penilaian, menggunakan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai dasar penilaian, bukan berdasar keinginan diri. Rasulullah sendiri sebenarnya menyuruh kita untuk melakukan muhasabah tiap hari. Saat menjelang tidur, kita mengevaluasi diri, apakah hari ini kita sudah melakukan banyak kebajikan atau kejahatan?

Setiap orang yang jatuh cinta, hatinya akan bergetar ketika nama kekasihnya disebut, atau ketika melihat dan mendengar sesuatu yang mengingatkannya pada sang kekasih. Misalnya, seseorang akan bergetar ketika melihat tanggal hari ini sama dengan tanggal lahir kekasihnya, atau ketika melihat deretan angka yang sama dengan plat nomor kendaraannya atau bertambah rasa cintanya ketika mendengar orang lain sedang memberikan pujian pada kekasihnya.

Begitu juga orang yang mendapat petunjuk arah di labirin cinta. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam al-Quran surat al-Anfaal ayat 2. “Yakni orang-orang yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka.” Orang seperti mereka tidak akan tersesat dalam labirin cinta. Cinta mereka akan bermuara hanya pada kebahagiaan. Tapi cemaslah jika hati Anda tidak bergetar ketika disebut nama Allah, karena artinya Anda belum memiliki rasa cinta kepadaNya.

Bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta kepada Allah? Secara tak sengaja pula, khatib yang memberi khutbah di mesjid al-Mukhlisin Labuh Baru, tempat saya shalat Jumat kemarin, membahas hal yang sama. Rasa kantuk di mata saya tiba-tiba hilang. Walaupun singkat tapi khutbah itu memberi saya pencerahan. Sang khatib menunjukkan tiga langkah mendapatkan cintanya Allah.

Pertama, perbanyaklah dzikir kepada Allah. Pelajari apa dzikir yang yang utama dibaca di waktu-waktu tertentu, misalnya waktu sahur, pagi hari, tengah hari, sore hari atau tengah malam. Cari tahu apa kalimat tayyibah yang dibaca misalnya ketika bangun tidur, masuk atau keluar rumah, ketika hujan, ketika melihat pemandangan yang menakjubkan, ketika bercermin, ketika bersin, ketika marah, sedih, cemas, takut, gembira atau ketika mendengar ayat-ayat sajadah. Jangan lupa berdo’alah selalu agar Allah menanamkan rasa cinta di hati kita kepadaNya.

Kedua, perbanyaklah membaca al-Quran. Bacalah al-Quran terutama sebelum azan shubuh dan sebelum tidur. Tidak hanya itu, luangkanlah waktu untuk mentadabburi al-Quran. Bagaimana caranya? ikuti kajian-kajian tafsir. Atau baca terjemahan dan tafsir al-Quran. Ada banyak buku atau CD tafsir al-Quran yang dijual di toko buku. Daripada mengoleksi buku novel atau ensiklopedia kenapa tidak mengoleksi buku tafsir?

Yang ketiga bertawakkal kepada Allah. Kembalikan semuanya kepada Allah, apa yang kita anggap kita miliki saat ini sesungguhnya adalah milik Allah. Yang kita miliki justru apa yang telah kita sedekahkan atau infakkan kepada orang lain, begitu juga amal kebaikan yang telah dilakukan dengan ikhlas dan ittiba’. Orang yang melakukan ketiga langkah ini insyaAllah akan mencintai dan dicintai Allah ‘Azza wa Jalla. Wallahu a’lam 

Komentar Kamu